Seminar

Zakat dan Wakaf merupakan gerbang dalam pembangunan ekonomi atas dasar ibadah guna meningkatkan kesejahteraan umat. Meski sama sama memiliki nilai ibadah namun kesadaran masyarakat dalam mengimplementasikan kegiatan zakat dan wakaf masih tergolong sangat minim. Minimnya kesadaran masyarakat tidak lain dikarenakan praktik pengelolaan zakat dan wakaf masih terhalang oleh tingkat pemahaman yang kurang memadai di era digital saat ini dimana pembahasan tentang pentingnya zakat dan wakaf masih kurang familiar dibandingkan informasi mengenai pajak yang terus menerus dibumingkan.

Negara tentu perlu memaksimalkan pengelolaan zakat dan wakaf untuk mencegah berbagai problematika penghambat Pilantropi Islam (Zakat dan Wakaf), salah satunya adalah dengan mengoptimalkan pengelolaan zakat dan wakaf melalui organisasi pengelola zakat yaitu Badan Amil Zakat dan Nasional (BAZNAS). Pengelolaan wakaf yang baik dan benar dapat mengembangkan pembangunan ekonomi untuk memperluas kemanfaatan sosial, akan tetapi sampai hari ini pengelolaan zakat sepertinya masih simpang siur dikarenakan tidak dijumpainya suatu perintah dari negara bagi pengelola zakat untuk mengambil secara aktif kepada orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat atau hendak mewakafkan sebagian hartanya kepada umat. Jika negara dalam hal ini pemerintah berani membuat peraturan dengan konsep tersebut maka zakat maupun wakaf yang dikelola tentu akan meningkat drastis dan dapat dimanfaatkan untuk membangun ekonomi berkelanjutan dengan menyentuh seluruh lapisan masyarakat bahkan pengelolaan dan hasilnya bisa lebih transparan melampaui pajak.

Berkaitan dengan hal tersebut maka wujud dari zakat dan wakaf nantinya bisa disalurkan melalui beranekaragam bentuk untuk membangun ekonomi masyarakat khususnya masyarakat kurang mampu melalui berbagai bentuk, diantaranya bantuan beasiswa, pengobatan gratis, balai pendidikan, pelatihan gratis, bantuan permodalan yang akhirnya dapat berkonstribusi membangun perekonomian negara yang adil dan merata. Apalagi saat ini teknologi memberikan kemudahan bagi pemerintah untuk mengakomodasi pengelolaan zakat dan wakaf secara efektif dan efisien. Era digital dan tekhnologi bagi generasi millenial sudah seharusnya menjadi faktor pendorong meningkatnya pengelolaan zakat dan wakaf tentunya dengan dibekali sumber daya manusia yang memadai dan kompeten. Merujuk fenomena yang terpapar diatas maka penting bagi kami untuk mengangkat tema:

“Filantropi Islam (Zakat dan Wakaf) Menuju Sustainable Economic Development di Era Revolusi Industri 4.0″.

TujuanTargetPeserta
  1. Melahirkan pemikiran dan gagasan dalam membuat jurnal-jurnal baru bagi program studi di lingkungan fakultas ekonomi dan bisnis islam.
  2. Menjadi garda terdepan dalam mengembangkan ilmu dan pendidikan ekonomi islam dimana pengajar, peneliti, praktisi maupun mahasiswa memiliki tanggungjawab moral dan spiritual dalam berpartisipasi menghadapi era distruption.
  3. Mengaktualisasi pilantropi islam zakat dan wakaf dalam kehidupan umat dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menyalurkan zakat dan wakaf dalam membangun ekonomi berkelanjutan guna kesejahteraan umat melalui berbagai aspek seperti jaminan sosial, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.
  1. Diperoleh rumusan kontributif untuk melakukan pembaharuan dan pengembangan keilmuan ekonomi syariah.
  2. Terwujudnya bahan akademik pengembangan ekonomi syariah di Indonesia sesuai dengan perkembangan zaman
  3. Diterbitkanya berbagai jurnal yang memiliki nilai kontributif dalam keilmuan ekonomi syariah.
  1. Perguruan Tinggi Jawa Tengah
  2. Pengelola Zakat dan Wakaf
  3. Akademisi
  4. Mahasiswa
  5. Praktisi

Narasumber dalam kegiatan ini antara lain:

  • Wimboh Santoso, SE., M.Sc., Ph.D – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan
  • Tuan H Ahmad Shukri Yusoff – CEO Pusat Pungutan Zakat (PPZ) Malaysia
  • Dr. Ahmad Furqon, Lc., MA – Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
  • Dr. Aria Farah Mita MSM, CPA, CIFRS, CA – Dosen FEB – Universitas Indonesia

Leave a Reply

%d bloggers like this: